Jumat, 30 Agustus 2013







SHORT COURSE PROPOSAL

A.    Rationale

The rapid population growth that occurred in Indonesia has an impact on the growing need for a good and better education. This condition was one of the causation factor that influence the development and improvement the quality of PGSD.
There are many things to be improved in implementing PGSD S1 program. The curriculum is ongoing improvement since the S1 program has just implemented for one year. The human resources are still needed, especially the lecturers who have relevant background of study to elementary education. The increasing number of student senior high school during the present year to continue their study in PGSD program and also, the teachers who want to continue their education (S1 level) is very high, and that forces the PGSD FIP UNM to improve all the programs in order to respond this demand effectively. The number of things that will be addressed in the course PGSD indicated their intention of stakeholders to improve the quality and the quality of graduates who will become professional teachers.
To respond to increasing the quality or the quality of teachers will in near future, and then primary school teacher education as an institution producing teachers is a very important part in enhancing the quality of teachers will come. PGSD Program realize, that the improvement of teacher quality in line with improving the quality of services and facilities that will be their (prospective teachers) get as long as they take higher education.  Therefore, services that are closely linked to infrastructure and the ability of the lecturers in the lecture.
Improving the quality of the lecturers themselves today is an absolute requirement to be met, in order to improve service quality in the lecture. This requirement must be met through the efforts may be held by the lecturer concerned, and what had become of government programs such as BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) programs.
Improving teacher quality must be very consistent with the goals of the program BERMUTU, which seeks to fulfill what the indicator of achievement is teacher quality. mproved quality of education in PGSD will bring more and better impact on the quality of graduates and professional teachers.
  Indicators that could be mentioned among others readiness lecturer in the preparation process of learning (lectures) in the presence of media and completeness of lectures (syllabus, SAP, and Media), the process an enjoyable lecture (based  on PAKEM) and active learning.

B.     Objectives

Through this short training program, expected to meet the following objectives:
1. Strengthen the ability of lecturers (faculty member) in teaching process
2. Providing experience in systems management education programs for primary school teacher  

3. Providing experience and knowledge in developing programs PGSD in the future

4. Providing the experience of the existing system of teacher education in the State
     where held a short training

C.     Plans for short course

The programs will be planned to be implemented during this short training are:
1.   Following a short training course or about improving the quality of lecturers PGSD
2.   The practice field with a visit to local school  (systems management education programs for primary school teacher )
3.   follow some activities that can be used in developing programs PGSD in the future

D.   Closing
After following a short training is expected to provide the knowledge and experience to the development of education in Indonesia. What was gained during training, when returning to Indonesia will be disseminated to other PGSD lecturer, so the quality of lectures in PGSD will be improved.
Programs during this short training course will provide much input for the development of PGSD FIP State University of Makassar in particular and teacher education in general

Rabu, 05 Oktober 2011

MEMBANGUN ILMU PENDIDIKAN DENGAN LANDASAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN


Perkembangan dan kemajuan teknologi dibidang transportasi dan informasi membawa manusia ke dalam masa yang sangat sarat dengan kemajemukan. Dalam kemajemukan tersebut, filsafat sebagai suatu konsep pengarah pendidikan serta pembentuk etika dan moral pendidikan berada dalam tantangan besar. Dengan demikian maka semakin jelas bahwa filsafat pendidikan juga akan berperan dalam mengembangkan kultur dan etika pendidikan itu sendiri, dimana didalamnya tentu saja terlibat keseluruhan komponen pendidikan baik itu objeknya maupun subjek pendidikan.

Pendidikan yang ada diIndonesia bukan hanya yang didapati melalui lembaga pendidikan formal yang biasanya dimulai dari tingkat SD sampai Perguruan tinggi, tapi pendidikan yang ada adalah semua bentuk ajaran-ajaran yang berlaku dalam masyarakat Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai budaya atau kultur yang menghasilkan suatu kebiasaan atau adat istiadat. Adat istiadat bagai bangsa Indonesia telah mereka kenal sebelum memasuki jenjang pendidikan formal karena hal itu tumbuh dan berkembang dalam lingkungan kehidupannya dimulai dari keluarga sebagai masyarakat terkecil sampai pada masyarakat luas yang ada disekeliling mereka. Adat istiadat ini yang akhirnya membentuk suatu etika kepribadian seseorang yang mana telah dipadukan dengan pengalaman dan pengetahuan yang mereka peroleh secara formal dalam lembaga pendidikan.

Secara formal pendidikan yang ada di Indonesia telah diatur sedemikian rupa karena hal ini termaktub dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV yang berbunyi…

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban umum

yang kemudian dijabarkan dalam Undang-undang dasar 1945 pada Bab XIII pasal 31 ayat 1 yang bunyinya “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran“ dan ayat 2 “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang”. Demikian juga halnya pada 8 jalur pemerataan maka masalah pendidikan berada pada jalur pemerataan yang ke 2 "Pemerataan Kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan”. Kemudian masalah pendidikan ini juga terdapat pada GBHN tahun 1999 – 2004 pada point E.

Untuk lebih memperjelas apa yang penulis maksudkan dengan judul Membangun Ilmu Pendidikan dengan Landasan Filsafat Ilmu Pengetahuan. penulis akan mengangkat suatu rumusan permasalah yang mudah-mudahan dapat memperjelas maksud dari judul paper ini.

Permaslahan

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka ada beberapa rumusan masalah yang akan diangkat sebagai pokok permasalahan dari makalah ini sebagai berikut:

Bagaimana kedudukan filsafat ilmu pengetahuan sebagai landasan yang membangun Ilmu Pendidikan?

PEMBAHASAN

Kedudukan Filsafat Ilmu Pengetahuan

Jika kita berbicara tentang filsafat berarti kita akan menuju kepada sesuatu yang hakiki atau kebenaran yang mutlak dan yang mendasar. Seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Nadim al-Fisr ketika berdialog dengan seorang muridnya bernama Hayran bin al-Adh’af bahwa filsafat itu ingin mengetahui hakikat segala sesuatu termasuk asal dan tujuannya bahkan para filosof mendefinisikan bahwa filsafat ialah upaya menyelidiki hakikat semua yang ada atau filsafat adalah ilmu tentang prinsip-prinsip yang paling mendasar*). Bahkan dalam kamus filsafat Lorens Bagus dikatakan bahwa filsafat adalah disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang anda katakan dan untuk mengatakan apa yang anda lihat.

Titik berangkat pertama filsafat adalah kegiatan manusia, khususnya kegiatan pengetahuan dan kehendak yang merupakan kenyataan yang pertama dialami secara langsung oleh manusia. Didalam kegiatan ini ia menjadi sadar akan eksistensinya sendiri dan eksistensi orang lain. Dari sudut pandang ini seluruh filsafat adalah penjelasan tentang kegiatan manusia yang menyentuh akar-akarnya yang terdalam. Dalam arti lebih luas titik berangkat filsafat adalah pengetahuan mana saja tentang kenyataan yang mendahului penelitian filosofis. Ini mencakup pengetahuan biasa sehari-hari yang dimiliki individu, seperti warisan budaya masa lalu dan juga hasil ilmu-ilmu khusus lainnya. Pengetahuan-pengetahuan semacam ini membantu filsafat, tetapi filsafat juga membantu pengetahuan-pengetahuan ini sepanjang ia memantapkan dan menjelaskan prinsip-prinsip dasarnya.

Dengan kodrat yang diberikan Tuhan kepada Manusia (kodrat yang diberikan Tuhan kepada manusia berupa jasad dalam bentuk sebaik-baiknya, ruh, akal, nafsu, dan qalbu) maka sebagai wujud kesadaran akan eksistensi dirinya dan eksistensi orang lain, manusia menggunakan wahana ilmu pendidikan (education), ilmu pengetahuan alam (natural science), ilmu pengetahuan sosial (social science), dan ilmu humaniora (humanities) dalam membangun dan mengembangkan kehidupannya ke arah kesejahteraan.

Wujud kesadaran akan eksistensi tersebut berupa budaya (ilmu Pengetahuan) yang dihasilkan dari proses Perenungan (contemplation), pemikiran dan pengalaman (experiences) dengan menggunakan metode tertentu, dengan objek dan ruang lingkup yang jelas, serta secara sistematis.

Sesuai dengan makna filsafat yaitu sebagai ilmu yang bertujuan untuk berusaha memahami semua hal yang timbul dalam keseluruhan ruang lingkup pengalaman manusia maka berfilosofis memerlukan suatu ilmu dalam mewujudkan hal tersebut. Ajaran filsafat yang komprehensif itu telah menduduki status yang tinggi dalam kehidupan manusia yakni sebagai ideologi bagi suatu bangsa, diilhami dan berpedoman pada ajaran-ajaran filsafat bangsa itu yang telah menjadi akar budaya dari bangsa tersebut. Maka dengan demikian maka kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan, bahkan kesadaran atas nilai-nilai hukum dan moral bersumber dari ajaran filsafat tersebut.

Selasa, 12 Juli 2011

A. Konsep Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Pengetahuan merupakan pengalaman yang bermakna dalam setiap diri manusia yang tumbuh sejak dilahirkan. Oleh karena itu manusia yang normal sudah pasti memiliki pengetahuan. Pengetahuan mempunyai sifat yang acak. Dalam kehidupan yang semakin berkembang dan penuh tantangan, nilai fungsionalnya tidak mencapai optimal untuk menghadapi tantangan dan pemecahan masalah yang rumit. Agar nilai fungsionalnya menjadi optimal maka pengetahuan yang acak tersebut harus ditingkatkan menjadi ilmu.

Pengetahuan yang sifatnya acak dan terbuka, melalui proses yang panjang diorganisasikan dan disusun menjadi bidang-bidang ilmu, selanjutnya limu itu dikelompokkan menjadi ilmu eksak (ilmu pengetahuan alam) dan non eksak (ilmu pengetahuan sosial). Prinsip yang membedakan antara ilmu dan pengetahuan adalah ilmu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. disusun secara sistematik

2. ada obyek kajiannya

3. ada ruang lingkupnya kajiannya

4. menggunakan suatu metode tertentu

Dalam pengetahuan ciri-ciri tersebut tidak ada. Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan fakta-fakta dan aturan-aturan yang ada hubungannya antara satu dengan lainnya. Ilmu pengetahuan sangat penting dalam kehidupan manusia, karena dengan ilmu pengetahuan manusia dapat mengembangkan daya kemampuan yang dimiliki.

Pengetahuan apalagi limu (ilmu pengetahuan) sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pengetahuan pemanfaatan benda, alat-alat, senjata, dan juga hewan, menjadi mudah dan terarah untuk mencapai hasil. Apalagi jika pengetahuan tersebut telah tersusun dan ditingkatkan menjadi ilmu atau ilmu pengetahuan, maka penerapan pemanfaatan benda, alat, dan senjata tersebut akan menjadi lebih baik lagi. Penerapan pengetahuan dan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghasilkan sesuatu, membuahkan kemampuan yang disebut teknologi.

Perkembangan ilmu pengetahuan selalu diikuti oleh perkembangan teknologi. Teknologi adalah suatu studi sistematik akan teknik-teknik untuk membuat dan mengerjakan berbagai benda, sedang ilmu adalah usaha sistematik untuk memahami dan menafsirkan dunia. (Robert Angus Buchaman.2006:136).

Dengan demikian teknologi itu berkaitan dengan pembuatan dan penggunaan benda, alat-alat dan artefak-artefak, ilmu dicurahkan untuk usaha yang lebih konseptual untuk memahami ligkungan, dan tergantung pada keahlian yang relatif canggih di bidang baca tulis dan berhitung. Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan muncul sejak adanya peradaban-peradaban baru, sementara teknologi sama tuanya dengan kehidupan manusia itu sendiri.

Teknologi secara sederhana juga diartikan sebagai segala daya upaya yang dapat dilaksanakan oleh manusia untuk mendapatkan taraf hidup yang lebih baik. Jadi tujuan akhir dari penggunaan teknologi adalah kesejahteraan hidup. Namun demikian teknologi juga berdampak negatif bagi suatu usaha, sistem atau lingkungan. Sebagai contoh, eksploitasi hutan dengan menggunakan teknologi mekanis sehingga dapat dilakukan secara cepat dan dalam ukuran yang sangat luas, tetapi dapat merugikan ekosistem hutan itu sendiri, bahkan dapat merugikan wilayah lain yang bertetangga dengan lokasi hutan tersebut. Padahal harapan dari eksploitasi maupun pembukaan lahan adalah untuk tujuan positif yaitu meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitarnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu secara sistematis merupakan jawaban dari “mengapa”, sedangkan teknologi merupakan jawaban dari pertanyaan ”bagaimana”.

Kemudian dengan teknologi manusia dapat memanfaatkan gejala-gejala alam, dan bahkan dapat memanfaatkanya dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi kesimpulannya, bahwa teknologi itu adalah penerapan pengetahuan dan ilmu pengetahuan (dengan mengembangkan pengetahuan tentang cara-cara memanfaatkan sumber daya alam) untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Namun harus diingat bahwa penggunaan teknologi harus dipertimbangkan, pemilihan teknologi hendaknya berdasarkan pada efektivitas teknologi itu sendiri, yaitu memilih teknologi yang berdampak negatif seminimal mungkin. Terlepas dari segi poitif dan negatif tersebut di atas, teknologi diperoleh melalui suatu proses yang dikembangkan oleh manusia yang memiliki ilmu pengetahuan dan pengalaman yang cukup. Berkaitan dengan hal tersebut Tjakraatmadja (1997), mengemukakan lima sifat pokok teknologi yang perlu dipahami, antara lain:

1. Ilmu pengetahuan dan praktik/percobaan merupakan prasyarat untuk tumbuh dan berkembangnya teknologi. Teknologi yang telah dikuasai akan berkembang jika sudah terbagi dan termanfaatkan.

2. Teknologi dapat berupa kompetensi yang melekat pada diri manusia, dapat berwujud fisik yang melekat pada mesin dan peralatan maupun informasi yang diwadahi oleh sistem dan organisasi. Teknologi sangat diperlukan olah manusia baik berupa benda fisik, keahlian, keterampilan, maupun berupa dokumen informasi (misalnya buku, majalah, jurnal).

3. Teknologi tidak memberikan nilai guna jika tidak diterapkan atau tidak terbagi dan tidak terpakai secara tepat guna. Sebagai contoh, Indonesia pernah mengimpor traktor yang dipergunakan untuk mengolah lahan sawah yang luas. Setelah tiba di Indonesia ternyata alat tersebut tidak dapat digunakan karena lahan sawah di pulau Jawa kecil-kecil, di luar pulau Jawa lahannya memang luas tetapi jumlanya sedikit. Jadi alat tersebut tidak efektif, karena traktor tersebut tidak berdaya guna dan tidak tepat sasaran.

4. Sebagai salah satu asset perusahaan, teknologi dapat ditemukan, dikembangkan, atau bahkan tidak bernilai guna jika teknologi yang dimiliki sudah kadaluwarsa. Hal ini menunjukkan bahwa teknlogi bersifat dinamis dan mempunyai siklus hidup yang panjang.

5. Pada umumnya teknologi digunakan untuk mensejahterakan masyarakat atau meningkatkan kualitas hidup manusia. Hubungan antara pengetahuan dengan ilmu (ilmu pengetahuan) dan teknologi sangat erat, oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari timbullah ucapan yang sangat popular yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi atau sering disingkat dengan IPTEK.

Perkembangan peradaban manusia dari waktu ke waktu, ditandai oleh perkembangan IPTEK. Perkembangan teknologi ini sebenarnya sudah dialami oleh manusia primitif. Manusia primitif hampir seluruhnya hidup sebagai komunitas-komunitas nomadis yang kecil yang untuk bertahan hidup tergantung pada keahliannya mengumpulkan makanan (ubi-ubian, buah-buahan), berburu, menangkap ikan, dan menghindari bahaya binatang buas. Alat-alat yang dipergunakan berasal dari tulang dan tanduk rusa.

Memasuki jaman batu baru atau neolitik, terjadi revolusi neolitik dalam peradaban manusia. Inti revolusi adalah terjadinya perubahan dari food-gathering menjadi foodproducing (Soekmono.1990 :45). Perubahan ini telah membawa pengaruh yang sangat mendalam dan luas dalam bidang perekonomian dan kebudayaan. Perubahan itu mengakibatkan terjadinya peralihan dalam kehidupan masyarakat, yaitu cara hidup nomaden dan liar mulai ditinggalkan dan beralih ke cara hidup yang lebih menetap dengan kepandaian membuat rumah, mereka juga sudah mengenal peternakan dan pertanian. Periode peralihan ini menghasilkan peningkatan yang jelas pada populasi, sehingga mengakibatkan pertambahan jumlah komunitas dan menghasilkan permulaan kehidupan kota. Hidup dalam komunitas berarti pembentukan suatu masyarakat yang memerlukan segala peraturan kerja sama. Pembagian kerja memungkinkan perkembangan berbagai macam dan cara penghidupan dan kerja sama. Maka terjadilah kecepatan inovasi-inovasi teknologi bertambah sedemikian besar yang diikuti pula oleh munculnya organisasi-organisasi sosial dan politik dari kelompok- kelompok manusia tersebut dengan segala permasalahannya.

Masa neolitik ditandai oleh kemajuan teknologi dengan diciptakannya alat-alat dari batu untuk pertanian. Bahan lain yang dipakai untuk keperluan manusia adalah lempung atau tanah liat untuk membuat tembikar dan batu bata. Selain terjadi peningkatan kemampuan dalam menangani bahan-bahan mentah tekstil mengakibatkan penciptaan kain-kain tenun pertama untuk menggantikan kulit kayu dan kulit binatang. Penggunaan api adalah teknik dasar yang belum diketahui oleh manusia pada periode sebelumnya. Penemuan bahwa api dapat dijinakkan dan dikendalikan, selanjutnya ditemukan bahwa api dapat dihasilkan dengan digesekkan secara terus menerus diantara permukaan-permukaan kayu yang kering. Api adalah sumbangan penting prasejarah kepada teknologi tenaga, meskipun sedikit tenaga yang diperoleh secara langsung dari api sebagai perlawanan melawan binatang buas.

Sebagain besar komunitas-komunitas prasejarah masih bergantung pada tenaga manusia, tetapi dalam membuat peralihan menuju kehidupan yang menetap, manusia mulai memperoleh suatu tenaga dari binatang-binatang yang telah dijinakkan. Selain itu mereka juga menemukan layar, dengan memanfaatkan angin untuk menggerakkan sampan-sampan kecil merupakan awal dari rangkaian panjang perkembangan di bidang transportasi laut.

Alat-alat dasar manusia prasejarah ditentukan oleh bahan-bahan yang tersedia di alam sekitar, tetapi setelah mereka mengenal teknik-teknik menggarap batu, mereka banyak akalnya untuk menciptakan alat-alat dan senjata penusuk dan pengarit. Hasilnya seperti tombak berkepala batu, alat pemotong, dan panah merupakan alat yang digunakan secara luas dalam masyarakat. Revolusi neolitik tidak hanya menciptakan alat-alat berburu, namun juga menciptakan alat-alat mekanis gerak berputar dalam bentuk jentera sebagai pembuat tembikar.

Perkembangan di bidang produksi makanan menghasilkan perbaikan-perbaikan lebih maju di bidang peralatan. Keahlian menghasilkan makanan diciptakan untuk melayani kebutuhan pertanian dan peternakan. Tongkat-tongkat penggali, bajak pertama yang masih kasar, arit batu, dan kincir tangan untuk menggiling padi-padian dengan pergesekan antara dua batu. Selain itu teknik-teknik irigasi untuk menjaga tanah tetap dialiri air dan tetap subur.

Tahap-tahap perkembangan cara memenuhi kebutuhan manusia di atas juga diikuti oleh perkembangan teknologinya. Perkembangan teknologi/Iptek di mulai dari hanya memanfaatkan anggota badan yaitu kaki dan tangan, menggunakan peralatan sederhana sampai peralatan yang lebih baik seperti alat-alat dari batu (misalnya bajak, arit, gerabah), dan senjata. Perkembangan Iptek lebih maju lagi dengan diketemukaanya api yang dimanfaatkan sebagai sumber tenaga.

Rabu, 11 Februari 2009

Kualitas atau Kuantitas ?

Pendidikan di Indonesia saat ini mengalami tantangan besar. Dengan adanya anggaran Pendidikan sebesar 20 % dari APBN merupakan modal yang banyak untuk dimanfaatkan sebesar besarnya bagi pendidikan di negeri ini.
Tantangan?
Yah, ketika anggaran 20 % tersebut juga termasuk tunjangan profesi yang akan lebih "memanusiakan" guru dalam segi finansial, maka di sisi lain "Keprofesionalan" guru juga dituntut untuk lebih di tingkatkan.
Guru yang belum bergelar S1 rame-rame cari PT yang bisa meng-S1- kan tanpa harus meninggalkan tugas pokok di sekolah, alasan ini yang menjadikan adanya kelas eksklusif Sabtu dan Minggu.Atau PT yang rame rame membuka kelas kemitraan dengan PEMDA setempat untuk dapat meng-S1-kan guru guru tersebut. Maka beramai-ramailah dosen-dosen PT "Balik Kampung" (ngajarnya jauh ke daerah tingkat II) saban hari Sabtu dan Minggu.
Kuliahnya, sabtu minggu- dipadatkan yang biasanya (reguler perkuliahan) 16 kali pertemuan, maka cukuplah 8 kali pertemuan,he.he.
Bagaimana Mahasiswanya?
Yah, ada yang memang punya semangat 45,65,75 untuk belajar, mendapatkan sesuatu yang baru. Tapi ada juga yang hanya punya semangat 1 saja, yaitu dapat satu itu... I J A Z A H.
Jadi, ada mahasiswa yang memang mau "Learning how to learn" dan ada juga yang hanya "dapetin how to dapetin ijazah"
Yah, siap siap saja menerima sarjana yang banyak dengan jumlah sedikit (Lho!) yah silahkan kasih komentar deh...

Selasa, 12 Agustus 2008

wajah sekolah kita bukan hanya di kota saja

kalau kita berkunjung ke sebuah sekolah dasar yang berada di perkotaan, tentu kita tidak akan diperhadapkan dengan permasalahan, bangku rusak, genteng jatuh, papan tulis yang robek, sampai pada guru yang tidak ada. Tapi semua itu bisa kita temukan ketika kita mau datang kesebuah daerah jauh, terpencil dipelosok negeri ini, jadi mari kita berbagi, dengan semua keadaan yang kita temukan dalam pendidikan nasional bangsa ini,
"sharing to make a better education".

Arsip Blog